Siap Diutus: Tugas Perutusan Murid Yesus

 

Siap Diutus: Tugas Perutusan Murid Yesus

Pengantar


Kata ‘panggilan’ bukanlah sesuatu yang asing. Dalam hidup sehari-hari tidak jarang kita mendengar bahkan kita sering melakoninya. Kita seringkali dipanggil entah oleh orang tua, guru di sekolah atau teman-teman. Bahkan kita sendiri tidak jarang memanggil orang lain.


Panggil dan memanggil menjadi semacam bagian dari “kita”, sebagai tanda bahwa ada yang memerlukan kita atau sebaliknya kita yang memerlukan orang yang kita panggil.


Biasannya kita memanggil atau dipanggil karena ada maksud atau tujuan yang hendak disampaikan. Misalnya, seorang anak dipanggil orangtuannya untuk memasak, seorang siswa dipanggil gurunya untuk dimintai keterangan alas an keterlambatan mengumpulkan tugas, dst. Intinya bahwa setiap panggilan mempunyai maksud dan tujuan.


Dipanggil untuk diutus


Yesus memanggil murid-murid-Nya untuk menjadi rekan dalam melaksanakan karya pewartaan Yesus tetang Kerajaan Allah. Para murid mendapatkan tugas dari Yesus sendiri.


Melalui sakramen pembabtisan setiap orang kristiani diangkat sebagai murid Kristus. Karenanya orang kristiani dipanggil untuk mengemban tugas perutusan sebagai murid Kristus untuk turut serta mewartakan kabar gembira Kerajaan Allah.


Kerajaan Allah yang dimaksud ialah kedamaian, kerukunan, persaudaraan, keadilan dan cinta kasih. Kerajaan Allah berarti menyangkut tata hidup yang harmonis, dan dalam pengejahwatahannya bukan tunggu nanti atau di tepat tertentu melainkan dihidupi selama hidup, dimana pun kita berada.


Kitab suci perjanjian baru banyak memberikan kesaksian tentang bagaimana Yesus mengutus para murid. Salah satu kisah yang menarik ialah Yesus mengutus 70 murid. Dalam perutusan itu para murid tidak berjalan sekaligus atau secara bersama-sama, melainkan berdua-dua (lih Lukas 10:1-12).


Menjalani tugas perutusan tentu bukanlah sesuatu yang mudah, mengingat dinamika tempat, kebudayaan dan keberagaman karakter masing-masing orang menjadi tantangan dalam misi pewartaan. Dan Yesus sendiri memberitahukannya demikian: “Aku mengutus kamu seperti anak domba ke Tengah-tengah serigala”. Ungkapan Tuhan Yesus itu bukan tanpa alasan. Tuhan Yesus tahu betul karakter manusia, ada yang membuka diri dan mau mendengarkan pewartaan kebenaran iman akan Kerajaan Allah, tetapi ada juga yang hatinya mengeras dan menutup diri terhadap karya Allah, serta menolak kehadiran para murid-Nya.


Mengatasi keraguan para murid yang hendak diutus, Tuhan Yesus mengingatkan untuk jangan takut (lihat Matius 10:28).


Ada pun hal-hal yang harus diperhatikan dalam menjalankan karya pewartaan itu, sebagaimana ditegaskan Tuhan Yesus: pertama, tidak memilih-milih tempat dan kepada siapa mereka mewartakan Kerajaan Allah. Kedua, tidak membawa bekal atau harta jenis apapun. Ketiga, mengucapkan salam damai di rumah-rumah orang yang akan dimasuki. Keempat, menyembuhkan orang sakit.  Kelima, memperingatkan orang-rang yang menolak para murid (bdk Lukas 10:1-12).


Penutup


Makna panggilan Yesus bagi kita orang kristiani adalah kita dipanggil untuk mengambil bagian dalam tugas perutusan mewartakan Kerajaan Allah sepanjang hidup kita melalui kata-kata, dan perbuatan.


Mewartakan Kerajaan Allahberarti merealisasikan ajaran Kristus melalui hidup rukun, persaudaraan, menghargai perbedaan sebagai keunikan dari setiap orang.


Dalam menjalani tugas perutusan tidak perlu ragu-ragu apalagi takut, sebab Tuhan selalu menyertai kita.